19.8.15

Aku Wanita

Aku wanita...
Aku ingin dicintai
Aku ingin disayangi
Aku ingin selalu dimengerti

Aku wanita
Berharap menjadi nomor satu..
tapi tak mau menomorsatukan orang lain,
karna diri sendiri adalah nomor satu..

Aku wanita,
mencintai segala hal manis
mencintai segala hal romantis
tapi tak semua tahu.

Aku wanita,
berharap dikasihi

Aku wanita,
menyenderkan segala harap dalam bahasa kalbu..
Menyimpan rapat egoku..

Aku wanita...
melepas ego
melepaskan harap

musnah..
karna itu pasti salah..

bahasa kalbupun salah.
semua salah...


Aku. Kamu.

Aku memberi..
Kamu memberi..

Aku menerima...
Kamu menerima...

Aku berkata A
kamu terluka

Kamu berkata B
aku terluka

Aku memahami
Kamu memahami

Aku mengerti
Kamu mengerti

Aku memohon
Kamu memohon

Aku berharap
Kamu menolak...

Kamu berharap
Aku tak mengerti...

Aku menantikan...
Kamu meremehkan..

Kamu menantikan
Aku melupakan........

Aku terluka
Kamu terluka...

Aku sayang kamu
Kamu sayang aku

Aku tak mengerti kamu.
Kamu tak mengerti aku.

Aku cinta kamu
Kamu cinta aku

Aku berlari
Kamu mengejar

Kamu berlari
Aku mengejar
kamu bersembunyi


7.2.15

Seharusnya.........

Aku merindukan semburat merah langit senja.
Namun, apa daya?
Mendung masih menggelayut manja ketika aku menyandarkan punggungku di kursi beranda..

Angin membelai mesra.
Sedikit menggelitik bulu roma.
Membuatku ingin menutup mata.. 
Entah, mungkin juga menutup mata selamanya..

Sesungguhnya, aku enggan memikirkannya lagi..
Memikirkan alasan " Bagaimana mungkin aku terus mencintainya ketika aku ingin membencinya? Bagaimana mungkin aku terus mencintainya ketika aku tersakiti? "
Sesungguhnya pula, aku merasa jengah dengan pertanyaan itu.
Pertanyaan yang selalu aku lontarkan kepada diriku setiap saat saat..
Dan kurasa, itu sebuah pertanyaan retoris. 

Sekian lama aku menutup hati,
Sekian lama pula aku mengunci diri dibalik sugesti.
Cinta itu tidak ada. Cinta sejati takkan pernah ada. 
Ya aku bersembunyi dibalik itu semua.

Aku memiliki luka, luka yang seharusnya abadi.
Abadi? Konyol memang.
Luka dapat diobati bukan?
Akan tetapi, luka ini menolak untuk diobati. 
Luka ini jauh lebih berkuasa daripada diriku sendiri.
Dan karna luka ini...
Aku semakin mengunci rapat hatiku..

Namun, kau hadir.
Kau mendobrak pintu yang telah kututup rapat.
Kau mengoyak segala pertahanan yang telah kubuat.
Kau mengobati luka yang seharusnya abadi..

Aku merasakan debaran yang membuncah..
Aku merasakan gemuruh yang besar..
Aku merasakan..... Oh aku merasakan apa?
Entah, yang pasti aku bahagia..

Selalu menanti tawa renyahmu..
Selalu menanti tatapan isengmu..
Selalu menanti senyummu....
Ah! 

Sadarkah dirimu? 
sedikit sentuhanmu, mengubah emosiku
sedikit celotehanmu, mengubah mimpiku.....

Dan aku berharap, sedikit cintamu, mengubah duniaku....

NAMUN,
akhirnya aku terluka lagi.....
Di saat yang sama aku mencintaimu,
kau mencintai dia yang lain..
Di saat yang sama aku mencintaimu..
kau mengharapkan dia.. 
Dia, bukan aku.

Mengapa tidak ada jeda antara cinta kita?
Kita? Ya, cintaku padamu. Dan cintamu padanya.
Seharusnya segala hal itu memiliki jeda..
Mengapa tidak ada jeda untuk kau tinggal sejenak di sini?
Dan haruskah aku membiarkan kau untuk pergi?

Dan seharusnya kau sadar, 
dibalik senyummu tentangnya..
tersimpan pula luka dibalik senyumku.

Kau menyembuhkan luka yang seharusnya abadi..
Namun, kau goreskan lagi luka.
Kau goreskan sembilu ke hatiku.
Perasaan sakit mengucur dari luka itu.

Sesak di dada membuncah..
Seharusnya,
aku dan kau terperangkap dalam rasa yang sama.
AH seharusnya....... kita memang bersama.

Haruskah aku menutup pintu hatiku lagi?
Namun, aku tau, kau masih terperangkap di sana.
Bagaimana caraku membuatmu keluar..
Seharusnya aku tahu..
Namun, aku takut..
Aku takut jika aku tak mampu mencinta (lagi)

Terlalu banyak seharusnya.....
Seharusnya pula, aku lelah dengan semua ini..





28.1.15

Kau Masih Sahabatku?

Hidup bukanlah suatu jalan yang datar dan penuh bunga,
Melainkan terkadang disirami darah dan air mata
Begitulah kata Buya Hamka..
Entah berapa lama kita mengarungi waktu yang sama..
Entah berapa lama kita menghabiskan tawa bersama..
Entah berapa lama kita menangiskan suatu hal bersama..
Entah…. Entahlah…
Seharusnya, tiada ucapan perpisahan dalam persahabatan,
Sekalipun maut memisahkan, rasa di dalamnya selalu tersimpan..
Aku tau, kebersamaan itu sukar dipertahankan.
Aku tau, kelingking ini sukar untuk terus bersama..
Namun, aku juga tau..
Bahwa sahabat adalah orang yang akan selalu menemani,
Tak peduli seberapa sukarnya kebersamaan itu terjaga..
Lalu, bagaimana jika aku berkata “ Dan, sahabatku telah menjadi seorang bangsat “
Seharusnya lagi,
Sahabat bukan seorang yang menusuk dari belakang..
Melainkan seorang yang menampar dari depan..
Di sini aku mencintainya,
Aku tau, aku tak pernah sedikitpun dipandangnya…
Di sini aku menyayanginya,
Aku tau, aku tak pernah sedikitpun mendapat pedulinya..
Di sini, aku sakit..
Sakit karna aku tau itu semua…
Dimana aku meluapkan sakitku?
Hanya padamu wahai sahabatku..
Di mana aku meluapkan emosiku?
Hanya padamu wahai sahabatku..
Tetapi,
Kau harus tau sahabatku…
Sekalipun sakit yang kurasa, aku bahagia.
Ini luka yang manis.. Luka hasil mencintai…
Ahaha, betapa bodohnya bukan?
Namun, luka ini menjadi luka yang pedih dan perih..
Kau menabur garam pada lukaku..
Kau tau aku merasa terluka dan sakit..
Tapi apa kau tau?
Rasa sakitku menjadi lebih sakit ketika kau menyapanya..
Oke, aku masih kuat. Kau sekadar menyapa..

Oh Tidak, rasa sakit ini semakin menjadi,
Luka ini semakin menganga..
Kau lebih dari sekedar menyapa…
Ada apa?
Apakah kau juga mencintainya?
Oh jangan kau jawab..
Aku tak kuasa mendengarnya..
Aku ingin tertawa..
Kurasa kau memang mencintainya..
Tanpa kau jawab..
Mata dan tatapanmu sudah menjawabnya..
Ah, aku tak kuasa..
Tapi tunggu…
Persahabatan lebih dari sekedar percintaan bukan..
Aku tak boleh terpancing.
Aku biarkan kau mencintainya, tapi kau harus mengakuinya terlebih dulu..
Oh!! Mengapa kau tak mengaku?!
Ayolah, apa susahnya?
Heyy!! Mengapa kau semakin menutupi? Aku masih sahabatmu bukan?
Heyy! Mengapa kau mengarang cerita baru padanya?
Heyy!! Mengapa ia tiba-tiba menjauhiku?
Heyy! Rupanya kau yang mengajaknya pergi..
Aku tau cintaku tidak terbalaskan..
Aku sudah terluka karnanya..
Akan tetapi, mengapa ia harus pergi…..
Terlebih pergi karna bujuk rayumu.

Kau sahabatku kan?